LAHIRNYA NABI ISA

Matahari tampak akan tenggelam, angin pun bertiup sepoi-sepoi menembus jendela mihrab Maryam. Kesejukan pun memenuhi sekeliling gadis perawan yang sedang khusuk dalam sholatnya.
       Setelah Maryam menyelesaikan sholatnya, ia bersiap-siap untuk turun dari mihrab. Namun tiba-tiba terdengar suara memanggilnya,
“Wahai Maryam, sesunggunya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas seluruh wanita di dunia”
       Maryam tertegun mendengar suara itu. Mihrab itu dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat. Maryam pun merasa bahwa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana ruhaninya dan fisiknya. Ia merasa bahwa darah, kekuatan dan masa mudanya mulai meninggalkan tempatnya dan digantikan dengan kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Kini ia menyadari bahwa Allah telah memilihnya, mensucikannya dan menjadikannya panutan bagi wanita di dunia. Malaikat kembali berkata kepadanya, “Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama-sama orang yang ruku……”
       Malam itu Maryam berjalan-jalan di taman tak jauh dari mihrabnya. Ia tidak dapat memejamkan matanya. Masih terngiang ditelinganya kalimat-kalimat yang diucapakan oleh malaikat. Ia merasakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi padanya.
       Dalam keheningan malam itu tiba-tiba Maryam mendengar suara derap kaki yang menetap diatas batu serta pasir. Ia merasakan bahwa ia tidak sendiri, ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Namun ia tidak melihat siapa-siapa di sekelilingnya. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah cahaya dikejauhan. Cahaya itu berjalan mendekatinya dan berhenti dihadapannya. Maryam terkejut seketika, ia memandang cahaya yang terpancar dari sosok orang asing yang berdiri memandangnya. Ia gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Pandangan orang asing itu memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan kerendahan hati yang mengagumkan.
       “Salam kepadamu wahai Maryam” sapa orang itu yang membuat Maryam makin ketakutan.
       “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang bertaqwa”
       Maryam berlindung di bawah lindungan Allah dan ia bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau manusia yang mengenal Allah dan bertakwa kepada-Nya?”
       Kemudian orang itu tersenyum dan berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”
       Maryam tersentak mendengar ucapan orang itu. Terngiang di kepala Maryam kalimat “Aku adalah seorang utusan Tuhanmu….”
       “Kalau begitu, dia adalah malaikat Jibril yang telah berubah wujud menjadi manusia” pikir Maryam, “Lalu dia mengatakan bahwa aku akan melahirkan seorang anak laki-laki. Padahal aku masih perawan dan belum tersentuh oleh seorang pun. Bagaimana mungkin…” lanjut Maryam.
       Maryam berkata kepada Jibril, “Bagaimana mungkin aku memiliki seorang anak, sedangkan tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula wanita pezina!”
       Jibril menjawab, “Demikianlah Tuhanmu, Dia berfirman : Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar dapat Aku menjadikannya suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari-Ku, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.
       Maryam menyadari bahwa kalimat-kalimat Jibril yang dikatakan padanya adalah perintah Allah, dan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya pasti akan terlaksana. Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya,
       “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya, namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah, dan dia berbicara dengan manusia ketika masih dalam gendongan, dan ketika sudah dewasa dia termasuk diantara orang-orang yang saleh”.
       Keheranan Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu di perutnya, ia telah mengetahui namanya. Bahkan ia mengetahui bahwa anaknya itu akan menjadi seseorang yang terpandang di sisi Allah dan di sisi manusia, ia mengetahui anaknya itu akan berbicara dengan manusia saat ia maih kecil. Sebelum Maryam menggerakkan lisannya untuk melontarkan pertanyaan lain, Jibril mengangkat tangannya dan menghembuskan udara yang menyusup ke jasad Maryam. Lalu udara itu berubah menjadi seorang anak dalam rahimnya. Jibril pun lenyap dari pandangannya.
       Hari demi hari kian berlalu. Usia kandungan Maryam semakin tua. Hingga pada bulan yang kesembilan, pergilah ia ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahwa sesuatu akan terjadi hari itu, tetapi ia sendiri tidak tahu sesuatu apa yang sebenarnya akan terjadi. Allah menggerakkan kaki Maryam menuju tempat yang dipenuhi pohon kurma. Badannya mulai gemetar, lalu duduk bersandar tak berdaya di bawah pohon kurma yang besar dan tinggi. Ia mulai merasakan sakit pada dirinya. Bukan hanya rasa sakit akan melahirkan, tetapi juga penderitaan batin baginya. Apa kata orang nanti ketika ia pulang menggendong seorang bayi, sedangkan mereka tahu bahwa ia masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan bisa melahirkan?
       Maryam pun merintih tak kuasa menahan gejolak jiwanya, “Oh…alangkah baiknya aku mati sebelum ini, tentu aku tidak akan menanggung beban ini dan pasti orang-orang akan melupakan aku…”
       Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar Jibril menghibur kesedihan Maryam,
       “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, makanlah, minumlah dan bersenanghatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara pada seorang manusia pun pada hari ini”
       Maryam merasa agak tenang hatinya. Air sungai dan buah kurma itu benar-benar telah membuatnya merasa segar dan sehat. Tenaganya yang telah terkuras dalam perjuangan melahirkan anak, kini berangsur-angsur pulih. Ia memandangi sang bayi dalam buaiannya dengan penuh kecintaan.
       Masa-masa sulit bagi Maryam telah berakhir. Ia pun kembali ke kampungnya dengan jiwa yang tegar dan siap menerima perkataan apapun dari masyarakat. Hingga suatu sore ketika Maryam sedang berjalan melewati kerumunan orang-orang, ia dicerca dengan berbagai pertanyaan dan perkataan yang menyakitkan hati.
       “Bukankah kau masih perawan, Maryam?” tanya salah satu dari mereka.
       “Lalu anak siapa yang kau gendong itu?” tanya yang lainnya.
       “Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukanlah seorang penjahat dan ibumu juga bukan seorang pelacur!” teriak yang lain lagi.
       “Kami kira kau ini gadis suci yang kerjanya hanya beribadah saja. Ternyata kau telah berbuat nista!”
       Maryam tampak tenang dan tetap menunjukkan kebaikannya. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya keyakinan. Ketika pertanyaan semakin menjadi-jadi dan keadaan semakin sulit maka Maryam menyerahkan segalanya kepada Allah. Ia menunjuk-nunjuk ke arah anaknya. Orang-orang yang ada di situ tampak kebingungan.
       “Apa maksudmu, Maryam?!”
       “Kau meminta kami berbicara dengan bayi ini? Sudah gila kau rupanya!”
       Mendadak bayi yang masih merah itu berbicara, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku kitab injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”
       Orang-orang yang berkerumun itu terperangah demi mendengar seorang bayi mungil dapat berbicara lancar. Kata-katanya pun bagus. Dengan cepat berita tentang keajaiban itu menggemparkan masyarakat sekitarnya.
       “Sungguh ini mukjizat Allah. Maryam memang gadis suci. Ia dipilih Allah untuk melahirkan utusannya” orang-orang mulai kembali percaya pada Maryam.

       Maryam bersyukur kepada Allah karena telah menyelamatkan dirinya dari segala macam fitnah. Rasa syukurnya bertambah besar ketika orang-orang menghormati dan memuliakannya karena dirinya memiliki anak yang kelak akan menjadi Nabi
***********

0 komentar:

Poskan Komentar